Kekagumanku pada sosoknya tak berbatas.....
Tanpa awalan dan tanpa akhiran.
Rasa hormatku padanya tak berujung, tak dapat kulihat batas pada akhirnya.
Cintaku padanya tak punya kendali, bebas, liar, berlari dengan kecepatan penuh.....
Keinginanku untuk bersamanya bagai mimpi dalam tidur sang Dewi yang tak berkesudahan.
Kenyamanan kala bersamanya, dalam buaiannya.... dengan kehadirannya, bagai udara dan air yang dibutuhkan tubuhku.
Senyum dan canda tawanya membuat hatiku melepuh.....
Cinta yang kumiliki untuknya sempurna, tanpa lubang ataupun celah.
Cinta itu ada dan hidup didalamku, berlari mengejar bayangannya.
Cinta ini kubungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya.....
ingin sekali kuberikan padanya, agar aku dapat mengintip celah hatinya mencari kemungkinan untuk memilikinya.
Memiliki semua keanggunan gerakannya dalam melampaui waktu dan mengarungi kehidupan.
Memiliki kemewahan untuk menerima ciumannya kala mataku terbuka menutup mimpi.
Memiliki kenyaman berada disampingnya.... menikmati hari-hariku didalam kenikmatan kasihnya.
Memiliki dirinya tanpa terbagi. Menjadi Ratu untuk hatinya.
Walau aku tahu, bahkan anginpun meniupkan petuah dingin mengenai realitas.
Angin menggugat....... meniupkan kedinginan tanpa iba, serunya....
Matahari telah hanya dimiliki Sang siang, dan Bulan hanya dapat menanti... penantian panjang untuk bertemu Matahari.
Tuhan pun bahkan menyimpan mereka selalu dalam jarak tetap...
Dan dia adalah matahari bagiku, Sang Bulan.....
Telah termiliki, telah ternikmati.... tak terbagi.
Dia untuk dia, bagai Matahari untuk sang Siang.
Tak ada yang Kuasa untuk mengubahnya.
Tapi cintaku telah terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya..... indah seindah cinta itu sendiri.
Tapi cintaku tak dapat kuberikan kepadanya..... tak dapat kugunakan untuk menyuapnya, agar ia dapat berpura-pura menutup mata akan realitas dan membiarkanku memasuki hatinya.
Aku tak dapat menggodanya dengan mimpi-mimpi indah yang akan kubagi dengannya.
Tak dapat memalingkan pandangannya kearahku....
Dia ada disana dengan segala keindahan yang dimilikinya....
Tak tersentuh.... tak teraih....
Kunikmati dalam jarak... kunikmati dalam batasan.
Dia telah dipagari, dimiliki dan dikasihi....
Hatinya telah terpenuhi oleh Kuasa cinta yang bukan milikku.
Aku tahu,.... bahwa tak ada dayaku untuk dapat memindahkan dia kedalam cintaku.
Tak ada Kuasaku untuk membuatnya menjadi milikku.
Aku tahu dan aku setuju dengan realitas....
Aku hanya dapat melepaskan mimpiku untuk memilikinya,
membiarkan diriku tak berdaya untuk memilikinya....
Memutuskan asaku untuk berkasih dengannya.
Biarlah dia tetap ditempatnya.....
Biarlah Cintaku yang terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam kusimpan dalam hatiku.... tetap disana, karena tak ada jalan untuk menyampaikannya.
Biarlah aku mencintainya dalam gelap, dalam diam, dalam angan dan bayangan.....
Agar angin yang berpetuah dingin pun tidak tahu bahwa aku menyimpan cinta untuknya.
Agar alam tenang, tak berkesempatan untuk menggugat perasaanku terhadapnya.
Biarlah aku mencintainya dengan cara yang berbeda.... memilikinya dengan cara yang berbeda.
Biar tak ada orang yang tahu.... tak ada kemarahan dan gugatan.
No comments:
Post a Comment