Kekasih hatiku, belahan Jiwaku.....
Kebahagiaanku adalah duduk diam dalam kedamaian dan nikmatnya cintamu....
Mendengar desahan nafasmu, merasakan degup jantungmu....
Menikmati senyummu, merasakan sentuhanmu, mendengar suaramu....
Berbagi semangat dan hidup denganmu......
Tetapi...................
Kekasihku hatiku, sayap penahan bebanku......
Jangan bertahan karenaku...... bertahanlah karena jiwamu memintamu demikian.
Jangan lakukan untukku...... Tinggalah dekatku, bersamaku dan menjadi bagian dari hidupku, hanya bila memang tarian jiwamu adalah menarikan jiwaku....
Kalau memang kebutuhanmu adalah bersamaku......
Satu hal yang penting dalam tarian jiwaku adalah melihatmu damai dan bahagia...
Bila batinmu meronta untuk pergi dariku.... jangan tahan dirimu.....
Aku menginginkanmu...... lebih dari bulan menginginkan sang siang.....
Aku membutuhkanmu lebih dari Malam membutuhkan bulan.....
Aku mendambamu lebih dari sungai mendamba samudera.....
Aku memujamu lebih dari pujaan dewi untuk sang Amor.....
Tapi aku lebih menginginkanmu tersenyum dan bahagia,.... disisiku atau disisinya....
Wednesday, March 15, 2017
Van Morrison...
"Dan kemudian pada suatu hari ketika kau kembali pulang, kau merupakan mahluk yang menggairahkan.
Kau memiliki kunci menuju jiwamu.
Dan aku memang membukanya pada hari kau kembali ke taman itu."
Jim Steinman...
"Dan para perempuan baik pergi ke surga, Sementara para perempuan yang nakal mereka pergi kemana saja mereka suka."
Kekagumanku pada sosoknya tak berbatas.....
Tanpa awalan dan tanpa akhiran.
Rasa hormatku padanya tak berujung, tak dapat kulihat batas pada akhirnya.
Cintaku padanya tak punya kendali, bebas, liar, berlari dengan kecepatan penuh.....
Keinginanku untuk bersamanya bagai mimpi dalam tidur sang Dewi yang tak berkesudahan.
Kenyamanan kala bersamanya, dalam buaiannya.... dengan kehadirannya, bagai udara dan air yang dibutuhkan tubuhku.
Senyum dan canda tawanya membuat hatiku melepuh.....
Cinta yang kumiliki untuknya sempurna, tanpa lubang ataupun celah.
Cinta itu ada dan hidup didalamku, berlari mengejar bayangannya.
Cinta ini kubungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya.....
ingin sekali kuberikan padanya, agar aku dapat mengintip celah hatinya mencari kemungkinan untuk memilikinya.
Memiliki semua keanggunan gerakannya dalam melampaui waktu dan mengarungi kehidupan.
Memiliki kemewahan untuk menerima ciumannya kala mataku terbuka menutup mimpi.
Memiliki kenyaman berada disampingnya.... menikmati hari-hariku didalam kenikmatan kasihnya.
Memiliki dirinya tanpa terbagi. Menjadi Ratu untuk hatinya.
Walau aku tahu, bahkan anginpun meniupkan petuah dingin mengenai realitas.
Angin menggugat....... meniupkan kedinginan tanpa iba, serunya....
Matahari telah hanya dimiliki Sang siang, dan Bulan hanya dapat menanti... penantian panjang untuk bertemu Matahari.
Tuhan pun bahkan menyimpan mereka selalu dalam jarak tetap...
Dan dia adalah matahari bagiku, Sang Bulan.....
Telah termiliki, telah ternikmati.... tak terbagi.
Dia untuk dia, bagai Matahari untuk sang Siang.
Tak ada yang Kuasa untuk mengubahnya.
Tapi cintaku telah terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya..... indah seindah cinta itu sendiri.
Tapi cintaku tak dapat kuberikan kepadanya..... tak dapat kugunakan untuk menyuapnya, agar ia dapat berpura-pura menutup mata akan realitas dan membiarkanku memasuki hatinya.
Aku tak dapat menggodanya dengan mimpi-mimpi indah yang akan kubagi dengannya.
Tak dapat memalingkan pandangannya kearahku....
Dia ada disana dengan segala keindahan yang dimilikinya....
Tak tersentuh.... tak teraih....
Kunikmati dalam jarak... kunikmati dalam batasan.
Dia telah dipagari, dimiliki dan dikasihi....
Hatinya telah terpenuhi oleh Kuasa cinta yang bukan milikku.
Aku tahu,.... bahwa tak ada dayaku untuk dapat memindahkan dia kedalam cintaku.
Tak ada Kuasaku untuk membuatnya menjadi milikku.
Aku tahu dan aku setuju dengan realitas....
Aku hanya dapat melepaskan mimpiku untuk memilikinya,
membiarkan diriku tak berdaya untuk memilikinya....
Memutuskan asaku untuk berkasih dengannya.
Biarlah dia tetap ditempatnya.....
Biarlah Cintaku yang terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam kusimpan dalam hatiku.... tetap disana, karena tak ada jalan untuk menyampaikannya.
Biarlah aku mencintainya dalam gelap, dalam diam, dalam angan dan bayangan.....
Agar angin yang berpetuah dingin pun tidak tahu bahwa aku menyimpan cinta untuknya.
Agar alam tenang, tak berkesempatan untuk menggugat perasaanku terhadapnya.
Biarlah aku mencintainya dengan cara yang berbeda.... memilikinya dengan cara yang berbeda.
Biar tak ada orang yang tahu.... tak ada kemarahan dan gugatan.
Tanpa awalan dan tanpa akhiran.
Rasa hormatku padanya tak berujung, tak dapat kulihat batas pada akhirnya.
Cintaku padanya tak punya kendali, bebas, liar, berlari dengan kecepatan penuh.....
Keinginanku untuk bersamanya bagai mimpi dalam tidur sang Dewi yang tak berkesudahan.
Kenyamanan kala bersamanya, dalam buaiannya.... dengan kehadirannya, bagai udara dan air yang dibutuhkan tubuhku.
Senyum dan canda tawanya membuat hatiku melepuh.....
Cinta yang kumiliki untuknya sempurna, tanpa lubang ataupun celah.
Cinta itu ada dan hidup didalamku, berlari mengejar bayangannya.
Cinta ini kubungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya.....
ingin sekali kuberikan padanya, agar aku dapat mengintip celah hatinya mencari kemungkinan untuk memilikinya.
Memiliki semua keanggunan gerakannya dalam melampaui waktu dan mengarungi kehidupan.
Memiliki kemewahan untuk menerima ciumannya kala mataku terbuka menutup mimpi.
Memiliki kenyaman berada disampingnya.... menikmati hari-hariku didalam kenikmatan kasihnya.
Memiliki dirinya tanpa terbagi. Menjadi Ratu untuk hatinya.
Walau aku tahu, bahkan anginpun meniupkan petuah dingin mengenai realitas.
Angin menggugat....... meniupkan kedinginan tanpa iba, serunya....
Matahari telah hanya dimiliki Sang siang, dan Bulan hanya dapat menanti... penantian panjang untuk bertemu Matahari.
Tuhan pun bahkan menyimpan mereka selalu dalam jarak tetap...
Dan dia adalah matahari bagiku, Sang Bulan.....
Telah termiliki, telah ternikmati.... tak terbagi.
Dia untuk dia, bagai Matahari untuk sang Siang.
Tak ada yang Kuasa untuk mengubahnya.
Tapi cintaku telah terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam menghiasinya..... indah seindah cinta itu sendiri.
Tapi cintaku tak dapat kuberikan kepadanya..... tak dapat kugunakan untuk menyuapnya, agar ia dapat berpura-pura menutup mata akan realitas dan membiarkanku memasuki hatinya.
Aku tak dapat menggodanya dengan mimpi-mimpi indah yang akan kubagi dengannya.
Tak dapat memalingkan pandangannya kearahku....
Dia ada disana dengan segala keindahan yang dimilikinya....
Tak tersentuh.... tak teraih....
Kunikmati dalam jarak... kunikmati dalam batasan.
Dia telah dipagari, dimiliki dan dikasihi....
Hatinya telah terpenuhi oleh Kuasa cinta yang bukan milikku.
Aku tahu,.... bahwa tak ada dayaku untuk dapat memindahkan dia kedalam cintaku.
Tak ada Kuasaku untuk membuatnya menjadi milikku.
Aku tahu dan aku setuju dengan realitas....
Aku hanya dapat melepaskan mimpiku untuk memilikinya,
membiarkan diriku tak berdaya untuk memilikinya....
Memutuskan asaku untuk berkasih dengannya.
Biarlah dia tetap ditempatnya.....
Biarlah Cintaku yang terbungkus dalam kain sutra berwarna jingga dan untaian manikam kusimpan dalam hatiku.... tetap disana, karena tak ada jalan untuk menyampaikannya.
Biarlah aku mencintainya dalam gelap, dalam diam, dalam angan dan bayangan.....
Agar angin yang berpetuah dingin pun tidak tahu bahwa aku menyimpan cinta untuknya.
Agar alam tenang, tak berkesempatan untuk menggugat perasaanku terhadapnya.
Biarlah aku mencintainya dengan cara yang berbeda.... memilikinya dengan cara yang berbeda.
Biar tak ada orang yang tahu.... tak ada kemarahan dan gugatan.
Percakapan singkat....
"Mungkin inilah yang membuat orang bersikap semakin pesimis pada pernikahan..."
"Benarkah ? dari keadaan yang ada Lelakiku tampak amat sangat mencintai Perempuannya"
"Ahli perkawinan berkata, bahwa hanya karena seseorang mencintai pasangannya, bukan berarti ia akan setia seumur hidup "
"Benarkah ? dari keadaan yang ada Lelakiku tampak amat sangat mencintai Perempuannya"
"Ahli perkawinan berkata, bahwa hanya karena seseorang mencintai pasangannya, bukan berarti ia akan setia seumur hidup "
Bali... Kini dan 5 tahun yang lalu
.... Sejenak aku terpaku....
Baru saja kujejakkan kakiku di Bandara ini lagi....
Dengan Harapan, akan melihat dirimu.... ditengah keramaian manusia, Meminjam api untuk Rokokmu.... Seperti 5 tahun yang lalu....
Aku melangkah menuju ruangan besar,..... dengan manusia yang banyak disana...
Sebagian kukenal dan mengganggu langkahku untuk sebuah "Hello".
Tapi tak kulihat dirimu.... belum, kataku... 5 tahun yang lalu'pun kau muncul ketika acara hampir usai..... Dan aku tetap berharap.
Detik demi detik kulewati.... dengan senyum dan harap yang tertuju pada pertemuanku denganmu.
Sesungguhnya aku tidak siap untuk bertemu dengan'mu...
Setelah semua yang kulalkukan padamu (tanpa sengaja),.... setelah semua yang terjadi padaku kini...
Aku bukan perempuan yang sama seperti 5 tahun yang lalu.... Tapi aku masih menggenggam erat Magenta itu, sungguh... entah untuk suatu apa....
Aku sabar menanti.... sabar meneliti setiap jengkal ruangan mencari bayanganmu....
Kau tak kunjung datang....
Aku berharap sapaanmu tiba-tiba menyapaku.... demi sebuah api rokok..., atau sebotol Corona.... seperti 5 tahun yang lalu...
Tapi kau tak kunjung datang.... asaku tersapu....
Aku hanya merindukanmu....
Aku hanya ingin melihatmu....
Aku hanya ingin menikmati senyumanmu...
Aku tahu, semua tak lagi sama.... seperti 5 tahun yang lalu....
Tapi Bali selalu memberiku secercah harap..... sebagai jalan untuk bertemu denganmu....
Baru saja kujejakkan kakiku di Bandara ini lagi....
Dengan Harapan, akan melihat dirimu.... ditengah keramaian manusia, Meminjam api untuk Rokokmu.... Seperti 5 tahun yang lalu....
Aku melangkah menuju ruangan besar,..... dengan manusia yang banyak disana...
Sebagian kukenal dan mengganggu langkahku untuk sebuah "Hello".
Tapi tak kulihat dirimu.... belum, kataku... 5 tahun yang lalu'pun kau muncul ketika acara hampir usai..... Dan aku tetap berharap.
Detik demi detik kulewati.... dengan senyum dan harap yang tertuju pada pertemuanku denganmu.
Sesungguhnya aku tidak siap untuk bertemu dengan'mu...
Setelah semua yang kulalkukan padamu (tanpa sengaja),.... setelah semua yang terjadi padaku kini...
Aku bukan perempuan yang sama seperti 5 tahun yang lalu.... Tapi aku masih menggenggam erat Magenta itu, sungguh... entah untuk suatu apa....
Aku sabar menanti.... sabar meneliti setiap jengkal ruangan mencari bayanganmu....
Kau tak kunjung datang....
Aku berharap sapaanmu tiba-tiba menyapaku.... demi sebuah api rokok..., atau sebotol Corona.... seperti 5 tahun yang lalu...
Tapi kau tak kunjung datang.... asaku tersapu....
Aku hanya merindukanmu....
Aku hanya ingin melihatmu....
Aku hanya ingin menikmati senyumanmu...
Aku tahu, semua tak lagi sama.... seperti 5 tahun yang lalu....
Tapi Bali selalu memberiku secercah harap..... sebagai jalan untuk bertemu denganmu....
"Banyak bintang, langit terlihat luar biasa cantik. Aku mendongakkan kepalaku untuk melihat langit... bulan lagi-lagi tersenyum hangat dan manis, walaupun kutahu hatinya terluka. Malaikat mungkin sibuk menghiburnya... tapi tak ada yang menghiburku. Setiap anganku kembali kedalam bayangan sosoknya, sosok yang kucintai dalam hati, aku merasakan rasa sakit yang sama, kemudian diikuti oleh sensasi yang sangat tinggi. Aku pernah meyakinkan diri sendiri bahwa seorang perempuan dapat memisahkan antara hati dan tubuhnya--- kemudian aku tersadar laki-laki lebih ahli dalam hal ini. Namun pada kenyataannya aku mendapati diriku memikirkan lelakiku sesering yang aku hindari, karena dia termiliki. Aku banyak mendapati luka yang sama, rasa sakit yang sama yang kemudian dilanjutkan sensasi yang membumbung tinggi.... memikirkan saat-saat mematikan dan agung saat kami bersama-sama"
Subscribe to:
Posts (Atom)